Mustika in gesprek met Trends Radio Mustika internet streaming Archief Dialog Mondial
 
DIALOOG MUNDIAL 
 
Taal: Surinaams) Javaans tussen Java - Hilversum en Suriname
 
Een informatief dialoog met een partner van radio Nederland Wereldomroep op Solo RIA FM, de heer Soemitro. Vanuit Hilversum de    hosting en live naar Suriname radio Mustika de meertalige zender de heer Joss Wibisono.
 
Vandaag 14 maart 2007 de start van onze eerste talkshow i.s.m. radio Nederland Wereldomroep vanuit Hilversum met een van de partners op Java. Aanvangstijd 10.00u v.m. Sur.tijd (14.00u Ned.tijd). Luister en participeer mee in de onderwerpen die aanbod zullen komen o.a. het vliegtuigongeluk in Yogya (Garuda). De Ambassadeur RI in Paramaribo drs. Supriyanto Muhadi participeert mee in de live uitzending.

Telefoonnummer studio Mustika: 00597 45 77 22
Presentatie: Sai Pawiroredjo, Rene Atmosoerodjo en Johan Sarmo
Taal: (Surinaams) Javaans
 
 drs Supriyanto Muhadi Dubes RI Suriname
 
 Sai Pawiroredjo                   Rene Atmosoerodjo
 
 Op een nader tijdstip wordt u geinformeerd wanneer een vervolg uitzending zal worden aangeboden met de buitenlandse partners. 

 
Talkshow  onder leiding van Sai en Soewarto, elke woendag 10.00 uur Surinaamse tijd met een of meerdere studiogasten. Tijdens de live uitzending kunt u meedoen door vragen te stellen,  uw eigen ervaring en mening te delen met de luisteraars.
Taal: Surinaams Javaans en Nederlands.
 
 Studiogasten:
 
  Woensdag 21 maart 2007
  DNA vz. Paul Somohardjo en drs. Soewarto Moestadja
  Izaak Soerokarso, Ambassadeur China
  
 
 Woensdag 28 maart 2007
 Bob Saridin, o.a.  ex-vz VHJI, ondernemer, voortrekker bevordering Javaans- en Indonesiche taal, kunst en cultuur
 
  Dhr. Bob Saridin

.Bahasa Indonesia > Dialog Mondial
 
RTV Mustika Paramaribo, Suriname
 

Alfons Lasedu dan Inneke Kalangi

27-03-2007

 

Untuk menjalin kembali dan mempererat tali silahturami antara orang Jawa Suriname dengan tanah leluhurnya yakni tanah Jawa di Indonesia, Radio Nederland Siaran Indonesia RANESI pada tanggal 14 Maret 2007, menggelar dialog interaktif antara stasiun Radio dan Televisi Mustika RTV Mustika Paramaribo di Suriname dengan mitra Ranesi Radio RIA FM di Solo - Jawa Tengah.

 
Foto Radio Nederland Wereldomroep
 
Acara ini dipandu oleh Joss Wibisono di studio 6 Radio Nederland. Penyiar RTV Mustika adalah Bapak Sai Pawiroredjo dengan tamu studio Duta Besar Republik Indonesia untuk negara Suriname Drs. Soepriyanto dan Johan Sarmo, seorang pakar bahasa Jawa yang menyusun kamus Jawa-Suriname-Belanda. Pembawa acara di Radio RIA FM Solo adalah Bapak Yon Haryono dan Sumitro.

 

Radio dan Televisi Mustika Paramaribo
Pada tanggal 8 Agustus 2003, diresmikan Siaran Radio Mustika 106.5 FM di bawah pimpinan bapak Rene Atmosoerodjo. Beberapa bulan kemudian menyusul siaran televisi pada tanggal 21 Desember. Divisi televisi berada di bawah pimpinan Drs. Soewarto Mustadja. Dalam perkembangannya, sekitar akhir bulan Maret 2004 RTV Mustika bisa dipantau di seluruh Suriname dan mancanegara.

Selain sebagai direktur divisi radio dan televisi, Bapak Rene dan Bpk. Soewarto membawakan juga salah satu acara di stasiun radio televisi ini. Dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, mereka ditemani dengan dua rekan lainnya, yang terdiri dari Bapak Willem Soedjiono dan Bapak ir. Saimin Redjosentono.

 

Program acara
Acara-acara RTV Mustika beraneka ragam, salah satunya adalah acara dalam bahasa Indonesia. Acara - acara yang disiarkan menggunakan berbagai macam bahasa: bahasa Jawa, Belanda, Portugis, Spanyol dan Suriname atau bagi orang Suriname disebut cara TakiTaki. Jumlah acara yang disiarkan dalam bahasa Jawa mencapai 60% sedangkan 40% digunakan oleh bahasa lain.

 

Suriname
Suriname merupakan salah satu negara bekas jajahan Belanda. Dahulu Belanda mempunyai dua wilayah jajahan, di bagian timur dikenal dengan nama Oost IndiŽ yaitu Indonesia, dan di bagian barat West IndiŽ di wilayah Karibia yaitu Antilia Belanda dan Suriname. Suriname terletak di bagian timur laut benua Amerika Latin, berbatasan dengan Brazil. Lebih dari satu abad lalu, setelah perbudakan dihapus, penguasa Belanda mendatangkan orang-orang Jawa ke Suriname untuk dipekerjakan di sektor perkebunan.

Penduduk Suriname terdiri dari suku yang berbeda-beda. Menurut data Kantor Statistik Suriname, kelompok orang-orang India atau lazim disebut masyarakat Hindustan mencapai 27,4%, kelompok Kreool (penduduk berkulit hitam) 17,7%, kelompok Jawa 14,6%, orang Cina 1,8% dan kelompok lainnya mencapai 12,5%.

Penduduk Jawa Suriname ini adalah orang-orang Jawa yang kurang lebih dua abad lalu berimigrasi ke Suriname untuk bekerja di sektor perkebunan. Bersamaan dengan perkembangan jaman dan generasi, banyak dari orang Jawa Suriname tersebut kehilangan kontak dengan tanah leluhurnya, yaitu tanah Jawa.

Seperti halnya di Indonesia, Suriname pun terbagi menjadi beberapa provinsi atau distrik. Beberapa distrik yang banyak berpenduduk masyarakat Jawa Suriname menggunakan nama-nama kota di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah seperti : Sidodadi, Bojonegoro, Tamanrejo, Tamansari, Purwodadi, Wonorejo dan lain sebagainya.

 

Bahasa Jawa
Bahasa Jawa sampai saat ini masih banyak digunakan di Suriname. Menariknya, bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Jawa Suriname adalah bahasa Jawa yang mereka gunakan ketika berangkat ke negeri Suriname lebih dari dua abad lalu, yakni bahasa Jawa Ngoko ( bahasa Jawa sehari-hari yang boleh dibilang bahasa Jawa kasaran). Sekalipun dalam prakteknya perkembangan bahasa Jawa tersebut tidak mengalami perkembangan bahkan terancam punah, bahasa Jawa Ngoko tetap bertahan selama lebih dari 116 tahun, termasuk kelompok di antara masyarakat Jawa Suriname yang tinggal di Belanda.

Di sektor pendidikan, bahasa Jawa tidak dimasukkan dalam sistem kurikulum pendidikan resmi Suriname.
Diharapkan di kemudian hari Universitas Suriname akan membuka jurusan Sastra Jawa. Di sisi lain, agar bisa tetap mengikuti perkembangan di negara leluhur Indonesia baik dalam berita maupun informasi lainnya, penguasaan bahasa Indonesia tetap merupakan kendala besar. Untuk membantu mereka yang mendapat kesulitan bahasa, maka pihak Kedutaan Besar Rapublik Indonesia untuk Suriname memberikan bantuan berbentuk pengajaran Bahasa Indonesia.
 

Masyarakat Jawa Suriname
Dalam kehidupan hidup sehari-hari orang Jawa Suriname bekerja di berbagai sektor. Di sektor pemerintah 18.2%, sektor industri 8.1%, sektor konstruksi berjumlah 11%, dan sektor swasta lainnya. Ada juga beberapa di antara mereka yang terjun ke bidang politik, sebagai anggota parlemen, ketua parpol dan sebagainya.

Dalam soal agama, tidak semua orang Jawa Suriname menganut agama Islam. Mereka berjumlah 64,2%. Penganut agama Kristen di antara masyarakat Jawa Suriname berjumlah 14,5%. Yang menarik dalam menjalankan ibadah banyak masyarakat Muslim Jawa Suriname juga dipengaruhi oleh tata cara adat Jawa leluhurnya, sehingga banyak di antara mereka tetap mengikuti cara Islam Kejawen dan dalam bersholat mereka berkiblat ke selatan (yaitu ke arah pulau Jawa) bukan ke Mekah.

Kegiatan bergotong-royong juga masih tetap dilakukan, misalnya pembangunan rumah. Ini menunjukkan bahwa pengaruh adat-istiadat Indonesia masih juga dilakukan masyarakat Jawa Suriname.
Mereka berharap agar hubungan antara orang Jawa Suriname dengan tanah Jawa di Indonesia tetap terjalin.

 

Bron: Hak Cipta Radio Nederland 2007
 
Link www.ranesi.nl